Feeds:
Posts
Comments

Sudah lama saya tidak menulis di blog ini.. Tugas Akhir telah menyita banyak waktu saya sehingga tidak saya sempatkan untuk menulis di blog ini lagi. Alhamdulillah, sekarang tugas akhir saya telah selesai.

Beberapa hari yang lalu, saya mendengarkan sebuah berita di televisi yang mengabarkan seorang nenek di Banyumas diseret dan divonis di pengadilan karena mencuri 3 buah kakao yang hendak ia gunakan sebagai bibit di kebunnya.

 

Minah berusia 55 tahun tinggal di Dusun Sidoharjo, Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, dihukum percobaan 1 bulan 15 hari karena mencuri tiga buah kakao di kebun PT Rumpun Sari Antan 4 di desanya. Persidangan di Pengadilan Negeri Purwokerto ini menyedot perhatian masyarakat karena benda yang didakwakan dicuri hanya tiga buah kakao yang akan digunakan Minah sebagai bibit.

 

“Minah (55) hanya dapat meremas kedua belah tangannya untuk menepis kegalauan agar tetap tegar saat menyampaikan pembelaan atau pleidoi di hadapan majelis hakim di Pengadilan Negeri Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Kamis (19/11).

Tanpa didampingi pengacara, ia menceritakan bahwa alasannya memetik tiga buah kakao di kebun PT Rumpun Sari Antan 4, pertengahan Agustus lalu, adalah untuk dijadikan bibit.

Nenek tujuh cucu yang buta huruf ini sesekali melemparkan pandangan kepada beberapa orang yang dikenal guna memperoleh kekuatan. Ia berusaha memastikan bahwa pembelaannya dapat meyakinkan majelis hakim.

Dengan menggunakan bahasa Jawa ngapak (dialek Banyumasan) bercampur bahasa Indonesia, Minah menuturkan, tiga buah kakao itu untuk menambah bibit tanaman kakao di kebunnya di Dusun Sidoharjo, Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas. ”Kalau dipenjara, inyong (saya) enggak mau Pak Hakim. Namung (cuma) tiga buah kakao,” ujar Minah kepada majelis hakim.

Minah mengaku sudah menanam 200 bibit pohon kakao di kebunnya, tetapi ia merasa jumlah itu masih kurang. Namun, belum sempat buah tersebut dibawa pulang, seorang mandor perkebunan, Sutarno, menegurnya. Minah lantas meminta maaf dan meminta Sutarno untuk membawa ketiga buah kakao tersebut.

Alih-alih permintaan maafnya diterima, manajemen PT RSA 4 malah melaporkan Minah ke Kepolisian Sektor Ajibarang, akhir Agustus lalu. Laporan itu berlanjut pada pemeriksaan kepolisian dan berakhir di meja hijau.

Minah sudah berusaha melepaskan diri dari jerat hukum. Tapi usahanya sia-sia. Hukum yang mestinya mengayomi masyarakat dengan menegakkan keadilan, bagi nenek Minah, ternyata tak punya nurani. Hukum kita rupanya tak memberi ampun bagi orang kecil seperti Minah. Tetapi, koruptor pencuri miliaran rupiah uang rakyat melenggang bebas dari sanksi hukum.

Di Jawa Tengah, misalnya, empat bekas anggota DPRD dan aparat Pemerintah Kota Semarang yang menjadi terpidana kasus korupsi dana APBD Kota Semarang tahun 2004 sebesar Rp 2,16 miliar divonis bebas. Mereka bebas dari sanksi hukum setelah Mahkamah Agung (MA) mengabulkan permohonan peninjauan kembali mereka. MA menyatakan keempat terpidana itu tidak melakukan tindak pidana.

Muramnya penuntasan masalah hukum di Jateng masih ditambah lagi dengan putusan hakim yang hanya memberikan hukuman percobaan kepada pelaku tindak pidana korupsi. Salah satunya dijatuhkan kepada Ketua DPRD Jateng periode 1999-2004, Mardijo. Terdakwa korupsi dobel anggaran APBD Jateng sebesar Rp 14,8 miliar ini hanya diberi hukuman percobaan selama dua tahun.

Minah memang tak mengerti masalah hukum seperti para terpidana dan terdakwa kasus korupsi itu. Namun, dengan berkata jujur, ia memiliki keyakinan bahwa ia mampu menghadapi rimba hukum formal yang tidak dimengertinya sama sekali.

Terhitung tanggal 13 Oktober sampai 1 November, Minah menjadi tahanan rumah, yakni sejak kasusnya dilimpahkan dari kepolisian kepada Kejaksaan Negeri Purwokerto. Sejak itu hingga sekarang, ia harus lima kali pergi pulang memenuhi panggilan pemeriksaan di Kejaksaan Negeri Purwokerto, dan persidangan di Pengadilan Negeri Purwokerto.

Rumah Minah di dusun, di pelosok bukit. Letaknya sekitar 15 kilometer dari jalan utama Ajibarang-Wangon. Perjalanan ke Purwokerto masih menempuh jarak sejauh 25 kilometer lagi. Jarak sepanjang itulah yang harus ditempuh Minah setiap kali memenuhi panggilan Kejaksaan Negeri Purwokerto dan Pengadilan Negeri Purwokerto.

Satu kali perjalanan ke Purwokerto, Minah mengaku, bisa menghabiskan Rp 50.000 untuk naik ojek dan angkutan umum. Ditambah lagi untuk makan selama di perjalanan. ”Kadang disangoni anak kula (kadang dibiayai anak saya),” katanya.

Sebelum menyampaikan putusan, majelis hakim juga pernah bertanya kepada Minah, siapa lagi yang memberikannya ongkos ke Purwokerto. ”Saya juga pernah dikasih Rp 50.000 sama ibu jaksa, untuk ongkos pulang,” kata Minah sambil menoleh kepada jaksa penuntut umum Noor Haniah.

Noor Haniah yang mendengar jawaban itu hanya dapat memandang lurus ke Minah.

Elegi Minah tentang tiga kakao yang diambilnya melarutkan perasaan majelis hakim. Saat membacakan pertimbangan putusan hukum, Ketua Majelis Hakim Muslich Bambang Luqmono sempat bersuara tersendat karena menahan tangis.

Muslich mengaku tersentuh karena teringat akan orangtuanya yang juga petani.

Majelis hakim memutuskan, Minah dihukum percobaan penjara 1 bulan 15 hari. Jadi, Minah tak perlu menjalani hukuman itu, dengan catatan tidak melakukan tindak pidana lain selama masa percobaan tiga bulan.

Persidangan ditutup dengan tepuk tangan para warga yang mengikuti persidangan tersebut.

Kasus Minah bisa menjadi contoh bahwa penuntasan masalah hukum di negeri ini masih saja berlangsung tanpa mendengarkan hati nurani, yaitu rasa keadilan….”

Dikutip dari  http://regional.kompas.com /read/xml/2009/11/20/08094 942/elegi.minah.dan.tiga.buah.kakao.di.meja.hijau

Hati saya miris membaca berita ini, yang membuat saya miris bukan karena nenek minah yang tua dan hidup serba pas-pasan ini dihukum karena mencuri 3 buah kakao. Nenek Minah memang bersalah telah mencuri dan wajar jika ia dihukum, tapi yang membuat hati merasa tidak adil adalah ketika hukum menyentuh orang yang miskin dan tidak berdaya, cepat sekali perkara selesai dan vonis diputuskan. Tetapi coba kita perhatikan hukum yang berkaitan dengan kasus orang2 kaya yang terlibat korupsi. Para penegak hukum terasa segan atau bahkan enggan untuk menyelesaikan perkara tersebut. Kemudian, hukuman yang diberikan rasanya tidak sebanding dengan kejahatan yang dilakukannya.

Orang awan seperti saya menghitung-hitung, jika nenek minah yang mencuri 3 buah kakao dipenjara 1,5 bulan, maka jika kita pukul rata, Ketua DPRD Jateng periode 1999-2004, Mardijo yang merupakan terdakwa kasus korupsi 14,8 miliar seharusnya hingga dikubur pun masih di dalam penjara. Uang 14 miliar jika dibelikan buah kakao dapat membeli puluhan truk kakao, dan satu buah turk dapat berisi ratusan atau bahkan ribuan buah kakao. Coba anda hitung, berapa ratus bulan seharusnya ia dipenjarakan.

Inilah salah satu sebab suburnya korupsi di Indonesia. Penegakan hukum yang lemah dan mudah dibayar, juga hukumnya yang terlalu berpihak pada koruptor. Pada pertengahan tahun 2000-an, Swedia menjadi negara yang paling sedikit korupsinya. Hal ini dapat terjadi karena di Swedia kerugian berkorupsi lebih besar dari keuntungannya. Para koruptor dihukum tegas dengan hukuman yang setimpal. Sedangkan di Indonesia, seorang koruptor 14 miliar hanya dihukum percobaan 2 tahun. Tentu sangat enak untuk ukuran duniawi, setelah mendapat 14 miliar, dihukum penjara 2 bulan ok lah ya, anggap aja pengorbanan dapetin kekayaan, di penjaranya pun konon enak kalo untuk  para pejabat. Setelah keluar, orang2 masih menyanjung-nyanjung dia dan dia pun masih dapat meneruskan jabatannya dengan uang 14 miliar yang masih dikantonginya. Enak bukan?? inilah salah satu sebab korupsi tumbuh subur di negeri kita..

jika ingin korupsi hilang, hukum tegas para koruptor.. Hukum mati para koruptor..!!!

Minah (55) hanya dapat meremas kedua belah tangannya untuk menepis kegalauan agar tetap tegar saat menyampaikan pembelaan atau pleidoi di hadapan majelis hakim di Pengadilan Negeri Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Kamis (19/11).

Tanpa didampingi pengacara, ia menceritakan bahwa alasannya memetik tiga buah kakao di kebun PT Rumpun Sari Antan 4, pertengahan Agustus lalu, adalah untuk dijadikan bibit.

Nenek tujuh cucu yang buta huruf ini sesekali melemparkan pandangan kepada beberapa orang yang dikenal guna memperoleh kekuatan. Ia berusaha memastikan bahwa pembelaannya dapat meyakinkan majelis hakim.

Dengan menggunakan bahasa Jawa ngapak (dialek Banyumasan) bercampur bahasa Indonesia, Minah menuturkan, tiga buah kakao itu untuk menambah bibit tanaman kakao di kebunnya di Dusun Sidoharjo, Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas. ”Kalau dipenjara, inyong (saya) enggak mau Pak Hakim. Namung (cuma) tiga buah kakao,” ujar Minah kepada majelis hakim.

Minah mengaku sudah menanam 200 bibit pohon kakao di kebunnya, tetapi ia merasa jumlah itu masih kurang. Namun, belum sempat buah tersebut dibawa pulang, seorang mandor perkebunan, Sutarno, menegurnya. Minah lantas meminta maaf dan meminta Sutarno untuk membawa ketiga buah kakao tersebut.

Alih-alih permintaan maafnya diterima, manajemen PT RSA 4 malah melaporkan Minah ke Kepolisian Sektor Ajibarang, akhir Agustus lalu. Laporan itu berlanjut pada pemeriksaan kepolisian dan berakhir di meja hijau.

Minah sudah berusaha melepaskan diri dari jerat hukum. Tapi usahanya sia-sia. Hukum yang mestinya mengayomi masyarakat dengan menegakkan keadilan, bagi nenek Minah, ternyata tak punya nurani. Hukum kita rupanya tak memberi ampun bagi orang kecil seperti Minah. Tetapi, koruptor pencuri miliaran rupiah uang rakyat melenggang bebas dari sanksi hukum.

Di Jawa Tengah, misalnya, empat bekas anggota DPRD dan aparat Pemerintah Kota Semarang yang menjadi terpidana kasus korupsi dana APBD Kota Semarang tahun 2004 sebesar Rp 2,16 miliar divonis bebas. Mereka bebas dari sanksi hukum setelah Mahkamah Agung (MA) mengabulkan permohonan peninjauan kembali mereka. MA menyatakan keempat terpidana itu tidak melakukan tindak pidana.

Muramnya penuntasan masalah hukum di Jateng masih ditambah lagi dengan putusan hakim yang hanya memberikan hukuman percobaan kepada pelaku tindak pidana korupsi. Salah satunya dijatuhkan kepada Ketua DPRD Jateng periode 1999-2004, Mardijo. Terdakwa korupsi dobel anggaran APBD Jateng sebesar Rp 14,8 miliar ini hanya diberi hukuman percobaan selama dua tahun.

Minah memang tak mengerti masalah hukum seperti para terpidana dan terdakwa kasus korupsi itu. Namun, dengan berkata jujur, ia memiliki keyakinan bahwa ia mampu menghadapi rimba hukum formal yang tidak dimengertinya sama sekali.

Terhitung tanggal 13 Oktober sampai 1 November, Minah menjadi tahanan rumah, yakni sejak kasusnya dilimpahkan dari kepolisian kepada Kejaksaan Negeri Purwokerto. Sejak itu hingga sekarang, ia harus lima kali pergi pulang memenuhi panggilan pemeriksaan di Kejaksaan Negeri Purwokerto, dan persidangan di Pengadilan Negeri Purwokerto.

Rumah Minah di dusun, di pelosok bukit. Letaknya sekitar 15 kilometer dari jalan utama Ajibarang-Wangon. Perjalanan ke Purwokerto masih menempuh jarak sejauh 25 kilometer lagi. Jarak sepanjang itulah yang harus ditempuh Minah setiap kali memenuhi panggilan Kejaksaan Negeri Purwokerto dan Pengadilan Negeri Purwokerto.

Satu kali perjalanan ke Purwokerto, Minah mengaku, bisa menghabiskan Rp 50.000 untuk naik ojek dan angkutan umum. Ditambah lagi untuk makan selama di perjalanan. ”Kadang disangoni anak kula (kadang dibiayai anak saya),” katanya.

Sebelum menyampaikan putusan, majelis hakim juga pernah bertanya kepada Minah, siapa lagi yang memberikannya ongkos ke Purwokerto. ”Saya juga pernah dikasih Rp 50.000 sama ibu jaksa, untuk ongkos pulang,” kata Minah sambil menoleh kepada jaksa penuntut umum Noor Haniah.

Noor Haniah yang mendengar jawaban itu hanya dapat memandang lurus ke Minah.

Elegi Minah tentang tiga kakao yang diambilnya melarutkan perasaan majelis hakim. Saat membacakan pertimbangan putusan hukum, Ketua Majelis Hakim Muslich Bambang Luqmono sempat bersuara tersendat karena menahan tangis.

Muslich mengaku tersentuh karena teringat akan orangtuanya yang juga petani.

Majelis hakim memutuskan, Minah dihukum percobaan penjara 1 bulan 15 hari. Jadi, Minah tak perlu menjalani hukuman itu, dengan catatan tidak melakukan tindak pidana lain selama masa percobaan tiga bulan.

Persidangan ditutup dengan tepuk tangan para warga yang mengikuti persidangan tersebut.

Kasus Minah bisa menjadi contoh bahwa penuntasan masalah hukum di negeri ini masih saja berlangsung tanpa mendengarkan hati nurani, yaitu rasa keadilan….

Dikutip dari http://regional.kompas.com/read/xml/2009/11/20/08094942/elegi.minah.dan.tiga.buah.kakao.di.meja.hijau

Pagi-pagi, saat mentari belum bangun dari tidurnya.. <lebaay.. :D > saya sudah terbangun dan melihat suasana di luar rumah. Sepiiiiii…… siiiiiiiing…… :( …. ada yang berbeda dari hari-hari biasanya pada rabu, 8 Juli 2009 kemarin. Ya, rakyat Indonesia kemarin melaksanakan pesta demokrasi pemilihan presiden secara langsung untuk kedua kalinya setelah tahun 2004. Tampaknya rakyat sangat antusias, setidaknya tercermin dari keluarga saya. :D Pagi itu, saya langsung bersiap untuk melaksanakan pencontrengan yang dilaksanakan di lapangan dekat rumah saya. Saya sudah mantap dengan calon presiden yang akan saya pilih.

Berdua dengan kakak saya pergi ke lapangan sekitar pukul 08.30. Kami pergi lebih dahulu dari orang tua karena sudah ingin mengikuti pencontrengan presiden. Tampak di lapangan bapak-bapak berkumpul membicarakan pilpres dan calon yang mereka dukung masing-masing.

Kartu undangan pemilu diberikan ke petugas KPPS dan saya menunggu di kursi tunggu kira-kira 15 menit, lalu nama saya dipanggil. Saya diberi selembar kertas suara dan segera masuk ke bilik suara untuk mencontreng presiden pilihan saya. Tidak lupa saya periksa kertas suara, takut ada kerusakan atau sudah dicontreng. Alhamdulillah kertas suara yang saya dapat dalam keadaan baik. Kemudian saya mencontreng di bagian foto presiden pilihan saya. Lalu saya masukkan kertas ke dalam kotak suara dan celupkan jari kelingking ke tinta tanda proses pencontrengan telah selesai.

Ketika saya keluar, bapak-bapak terlihat masih mengobrol dan tampak mengira-ngira siapa yang akan memenangkan pemilu ini. Mereka menjagokan calon presiden mereka masing-masing, terkadang sedikit berdebat. Namun semua tampak menyatu dan selaras dalam perbedaan pilihan dan golongan. Inilah yang seharusnya terjadi, walaupun pilihan berbeda, tetapi tetap satu saudara. Perbedaan hanya terjadi saat pencontrangan, di luar itu, semua harus bahu-membahu membangun bangsa ini. itulah yang dapat saya tangkap dari perdebatan mereka mendukung calon presiden masing-masing yang tetap diselingi senyum dan gelak tawa persahabatan.

Garuda_Pancasila

Garuda Pancasila

Sesampainya di rumah, saya menonton acara televisi yang membahas masalah pemilu. Saya melihat di salah satu saluran televisi sebuah acara yang menghadirkan pendukung dari ketiga calon presiden. Disana semua bersorak-sorak sambil berpegangan tangan seakan mereka bukan berasal dari kelompok yang berbeda. Betapa indah persatuan ditengah perbedaan dan keragaman warna. Hal seperti ini semoga dapat dilakukan pula oleh para pemimpin terutama calon-calon presiden kita. Siapapun yang terpilih secara resmi kelak haruslah bekerja keras untuk meningkatkan kehidupan bangsa Indonesia ini. Dan yang tidak terpilih, harus legowo dan mendukung presiden terpilih dengan sepenuh hati. Karena bagaimanapun keenam capres dan cawapres kita adalah enam orang terpilih yang memiliki kompetensi untuk memimpin bangsa. Memang presiden hanya ada satu orang, tetapi jika keenamnya saling mendukung dan dapat bekerja bersama bahu membahu membangun bangsa ini, pastilah pembangunan akan berjalan dengan baik dan cepat. Saat pemimpinnya bersatu, masyarakat di bawah pasti akan ikut mendukung dan menyatu bersama-sama menjalankan pembangunan. Cukuplah kompetisi terjadi saat proses pemilu, setelah pemilu selesai, kembali menjadi warga Indonesia yang satu. Inilah harapan saya selaku rakyat Indonesia yang mendambakan perdamaian dan kemajuan bangsa. Bagaimanakah harapan anda? apakah sama seperti harapan saya? itu terserah anda pribadi.. :)

Matahari belum lama tenggelam saat saya tiba di Stasiun Kereta Api Bandung. Saya pergi kesana diantar teman yang juga telah membelikan saya tiket. Memang sabtu lalu, (4/7) tiket kereta api sudah hampir habis terjual karena banyak warga yang pulang ke kampung halaman untuk sekesar berlibur, mudik, atau melakukan pemilihan presiden di kampung halaman. Saya sendiri akan pergi ke Jogjakarta untuk mengikuti tes pekerjaan.

Pukul 20.00, kereta Lodaya tujuan Solo Balapan meneriakkan klakson kerasnya pertanda kereta akan segera meninggalkan Bandung. Semua penumpang yang belum masuk kereta bergegas masuk ke dalam. Saya sudah ada di dalam kereta saat itu. Saya duduk di gerbong 3, sehingga tidak terlalu jauh dari lokomotif. Perjalanan yang dingin dan nyaman dalam gerbong eksekutif kereta Lodaya, semakin terasa indah melihat indahnya kerlipan lampu di luar jendela. Namun rasa kantuk terlalu kuat hingga saya tertidur pulas hingga stasiun Wates, Jogja.

Kereta dijadwalkan tiba pukul 05.11 senin pagi di jogja. dan ternyata kereta tiba lebih cepet 30 menit sehingga saya sudah menginjakkan kaki di Negeri Sultan pukul 04.36. Saya dijemput seorang teman yang dengan baiknya bangun subuh2 buat ngejemput saya di stasiun. Dia teman SD dan SMA yang sekarang kuliah di UGM, jadi dia bisa disebut tuan rumah juga, karena dia sidah hafal seluk beluk kota jogja. Saya istirahat sekitar 2 jam di kontrakkannya di sekitar jalan Kaliurang sambil nunggu tes pukul 08.00 di UGM. Saya meminta dia menemani karena tes saya dilakukan di UGM dan dia adalah mahasiswa UGM sehingga tau dimana tempat tes saya dilaksanakan. Kampus UGM sangatlah luas, sehingga sulit sekali mencari tempat di UGM tanpa tau dimana letak persisnya.

Tes dimulai pukul 08.00 hingga 12.00. Saya tidak akan menceritakan detil tes ini karena terlalu formal kalo cerita detil tes itu. Setelah tes selesai, saya diantar temen saya itu jalan-jalan keliling kota jogja. Ini pertama kalinya saya jalan-jalan di Jogja sendirian, maksudnya ga ikut rombongan. Biasanya kan kalo jalan-jalan ke jogja bareng-bareng rombongan karya wisata sekolah. Jadi ga bisa bebas pergi menjelajahi kota jogja. Gimana rute sesuai teklap karya wisata itu. Kalo kemaren saya bener-bener muterin kota jogja.

Makan siang di pusat Gudeg Wijilan deket keraton Yogyakarta, gudegnya enak banget.! ditemani minuman es secang yang tetap hangat walopun disajikan dingin. :) Berputar-putar kota jogja, melihat Tugu, keraton, benteng, gedung Agung, masuk pabrik bakpia pathuk. Nah, di pabrik ini saya nemuin tulisan unik. Ada tulisan imbauan “Wajib potong kuku setiap hari Jumat”. haha, mungkin ini dipasang untuk menjamin kehigienisan bakpia yang diproduksi. Supaya bakteri-bakteri yang nempel di kuku ga kebawa ke dalam bakpia. Timbul pemikiran di benak saya dan temen saya, kalo gitu paling enak beli bakpia hari sabtu dong. Pas pembuat2nya selesai potong kuku. Dan paling ga enak beli bakpia hari kamis, karena hari terakhir sebelum potong kuku. hahaha.. bcanda,, itu cuma khayalan kami.. :D

Ngayogyakarta Hadiningrat

Ngayogyakarta Hadiningrat

Setelah kenyang berkeliling kota jogja, akhirnya tak lupa berjalan-jalan di jalan Malioboro. Disana saya cuma liat-liat karena pusing banyak orang banget. Mau beli baju juga malas, jadi akhirnya cuma jalan-jalan dan liat-liat aja. Puas berkeliling kota Jogjakarta, kami kembali ke kampus UGM karena teman saya harus bimbingan TA. Wow, UGM luas sekali. Saya denger cerita teman saya bahwa tanah UGM adalah tanah milik sultan, sehingga sangat luas. Ga kebayang kalo saya harus berjalan di dalam kampus UGM, ga ada motor, atau angkot. Pasti cape banget. Saya bandingkan dengan kampus ITB yang kalo saya jalan dari depan sampai belakang kampus aja udah cape banget. Apalagi kalo harus jalan mengitari UGM. Saya menyadari betapa kecilnya kampus ITB, hanya satu blok Ganesha. :D Kemudian saya lihat selokan Mataram yang menurut cerita teman saya itu, dibangun sebagai perintah sultan pada masa penjajahan Jepang agar menghindarkan rakyat Jogja dari romusha. Daripada rakyat jogja dijadikan romusha, lebih baik diperintahkan untuk membangun selokan mataram itu. Wah, hebat ya sultan saat itu.!

Setelah berjalan-jalan di kampus UGM, kami pulang ke kontrakan teman saya. Sesampainya di kontrakan, saya bertemu teman sekontrakan teman yang semuanya orang jawa. Mereka tampak asyik mengobrol dan tertawa riang, tapi sedihnya saya tidak bisa ikut bergabung, karena mereka semua bercanda dalam bahasa Jawa dan saya tidak sedikitpun mengerti. Saya hanya bengong terdiam. hahaha… Walaupun begitu, mereka sangat ramah dan sopan. Pukul 22.00, saya berangkat ke Stasiun Tugu, Jogjakarta untuk pulang ke Kota Bandung tercinta. Kereta Turangga yang datang dari Surabaya menuju Bandung yang akan saya naiki tiba di Jogjakarta pukul 23.00 san saya langsung masuk dan mencari tempat duduk yang sudah saya pesan. Setelah kereta mulai berangkat, seketika saya tertidur, lelah setelah seharian mengikuti tes dan bertualang di negeri sultan terasa hilang saat tertidur pulas dalam kereta sepanjang perjalanan. Perjalanan ini memang hanya sehari, tetapi memberikan kenangan yang akan terus saya ingat. Sedapnya gudeg asli keraton, keramahan serta senyum tulus penduduk Jogja tidak akan mudah untuk dilupakan. Saya ingin segera kembali kesana. :)

Terakhir kali bimbingan kayanya bulan Mei..

Semenjak itu saya dikasi tugas buat nyari konstanta pengendali rangkaian Boost Converter yang jadi topik tugas akhir saya.. Dari waktu itu saya langsung kerjain.. Tapi ya gitu, susah banget buat nemu nilai konstantanya. Udah ngitung pake beberapa software matematika, baca beberapa buku, paper, nanya temen subjur kendali, nanya kakak kelas, tetep aja masih belom ketemu..

Sampe kemaren saya malu banget pas ketemu dosen pembimbing, soalnya belum ada progres yang berarti padahal selalu dikerjain siang dan malem. Kejadian kemaren bener-bener membuat saya ngedrop dan sempet kehilangan semangat. Karena dalam kegundahan itu, saya malah jadi marah-marah sendiri dan berimbas ke orang lain.

Akhirnya barusan dapet juga konstanta yang dicari-cari. Alhamdulillahirabbil ‘alamin.. perhitungan berminggu-minggu ini berbuah juga.

Alhamdulillah…

Makasi temen-temen..

Dan makasi buat mita yang selalu mendukung dan mendoakan saya. Dia adalah semangat dan inspirasi saya untuk nyelesein tugas ini. Saya minta maaf untuknya karena udah buat dia sedih kemaren. Jujur, saya ga bermaksud membuat dia sedih atau gundah. Kemaren hanya terbawa emosi karena abis ketemu dosen pembimbing. dan perasaan jadi gundah gulanah, akhirnya jadi ga bisa ngontrol emosi deh.. dari hati yang terdalam, aku minta maaf ya, mita..  Sukses juga ya untuk TA mu.. ^^

Hwaaa… kenapa konstanta PI ga dapet-dapet..

Pusiiiiiing…. udah berbulan-bulan masih dalam masalah yang sama..

Padahal cuma nyari konstanta PI.. Abis itu ketemu, bisa mulai bikin alat..

Juli –> Oktober

Semangat.!!!!

Malaikatku..

Yang selalu bersabar menjagaku..

Yang selalu gigih membesarkanku..

Yang selalu mendidik dan mengajariku..

Yang selalu memberikan yang terbaik untukku..

Dan selalu ikhlas berkorban untukku..

Sedari aku belum berparas..

Hingga kini aku dapat berlari..

Engkau sabar membesarkanku..

Engkau ada disaat aku tersenyum..

Engkau ada disaat aku tertawa..

Engkau ada disaat aku menangis..

Engkau ada disaat aku terjatuh..

Engkaulah malaikat yang Allah turunkan untukku..

Selamat Ulang Tahun Bundaku…

Semoga Engkau diberi usia yang barokah dengan penuh ketaqwaan kepada Allah SWT..

Semoga dimudahkan segala urusanmu..

Diberi kesehatan, kebahagiaan, dan keselamatan di dunia dan akhirat..

Semoga Engkau berada di tempat yang mulia di hadapan Allah dan manusia..

Amin..

Maafkan aku, putramu yang belum bisa banyak berbakti untukmu..

Salam sayang selalu..

-Putramu-

Selamat pagi…

Selamat pagi dunia..

Sudah lama kita ga bersua.. Rasanya di tulisan sebelumnya saya bilang mau kembali nulis di blog ini, tapi tetep aja terbengkalai. Kalo diliat-liat lagi, terakhir kali saya nulis di blog ini tanggal 4 februari 2009. Wew, udah ampir 4 bulan yang lalu. Maaf ya, blogku.. hehe..

Selamat Pagi dunia…

Hari ini cerah. Semoga apa yang terjadi hari ini bisa sebaik dan secerah pagi ini.. Amin..

Selamat Pagi kuucapkan untukmu yang selalu mendukung, menemani, dan mendoakanku.. Semoga kebahagiaan selalu menyertai setiap hari dan langkahmu.. Makasi udah ngasi semangat buatku nulis di blog ini lagi.. Kalo ga karena kamu nanya tulisanku yang sebelumnya, aku belum tentu buka dan nulis di blogku ini.. Aku dan Blog d’Fullmoon : “Makasi banyak yaaa…. ” ^^

Selamat Pagi…

Semoga Rahmat Allah SWT senantiasa tercurah menyertai setiap langkah dan perbuatan kita.. Amin..
Salam..

PALAPA Teknik Elektro ITB 2005 telah mendekati akhir. Hampir semua pekerjaan telah selesai dikerjakan. Proyek yang realisasinya dimulai setahun yang lalu ini telah dapat menghasilkan listrik kurang lebih 3kW yang kemudian didistribusikan ke kurang lebih 93 rumah dari 3 kampung di Desa Jayamukti, Kabupaten Garut.

Selama satu tahun pelaksanaan PALAPA ini, belum pernah sekalipun saya pergi ke lokasi langsung karena berbagai hal dan alasan. Pernah saya mau ikut, tapi saya jatuh sakit. Atau bentrok dengan tugas dan ujian, pokoknya saya belum berkesempatan untuk berkontribusi membantu langsung di lapangan. Sampai akhirnya pada sekitar minggu ketiga bulan Desember, saya turut pergi ke Garut bersama teman-teman untuk membantu memasang idle pulley tambahan pada turbin dan generator yang digunakan. Kami pergi kesana bersama beberapa orang dari PT. Chevron yang juga menjadi sponsor kegiatan ini.

Perjalanan kesana cukup jauh, memakan waktu sekitar 5 jam dari Bandung sampai desa jayamukti. Desa jayamukti terletak di pedalaman Kab. Garut bagian selatan. Dari pusat kota Garut ke arah Bayongbong, kemudian tiba di Cikajang dan ambil arah jalan ke Pameungpeuk hingga pertigaan Ciparay. Walaupun harus menempuh perjalanan yang sangat jauh, tapi saya bener-bener menikmati perjalanan ini. Panorama alam yang indah, Gunung Cikuray yang terlihat kerucut menjulang runcing ke langit, diselimuti awan tipis sekitarnya. Kebun teh yang hijau terhampar rapi, seakan permadani alam anugrah Tuhan. Hutan belantara yang masih asli dibelah aliran sungai yang jernih menuju laut selatan. Dan yang menurut saya paling mantap adalah saat kami melihat ombak pantai selatan dari puncak gunung yang kami lewati. Indah sekali melihat laut dari puncak gunung. Ini pengalaman pertama saya. Mobil kami berhenti di perkampungan yang memiliki jalan yang cukup besar, mobil tidak bisa masuk karena jalan ke kampung awilega tempat PALAPA hanya berupa jalan setapak. Jadi kami jalan sampe ke kampungnya.

Kampung Awilega bener-bener ada di tengah pedalaman <ga pedalaman2 banget c.. hehe.. Saya lebay dikit gapapa>. Tapi pemandangan disana bener-bener indah banget. sawah hijau, hutan yang masih asli, air terjun yang indah, sungai mengalir jernih, dan lainnya. Belum lagi sambutan hangat dari warga yang membuat kami serasa berada di rumah saudara. Kami tinggal disana selama seminggu, memperbaiki pembangkit, jalan menuju kesana, dan perkabelan ke rumah-rumah warga. Seminggu disana benar-benar tak terlupakan, banyak pengalaman dan pelajaran baru yang didapat kala itu.

Kembali ke Blog-ku

Assalamualaikum Wr. Wb…

Apa kabar temen? udah lama banget ni kayanya saya ga buka ini blog. Diliat dari tanggal terakhir saya nulis berarti udah lebih dari sebulan saya ga buka blog ini. Maklum, dalam rentang waktu sebulan kemarin banyak sekali agenda yang harus saya kerjakan, mulai dari bantu2 PALAPA Elektro 2005, UAS, Seminar TA, Ekskursi, ampe fesbukan yang mengalihkan perhatian ngenet saya dari blog ini. Tapi sekarang udah mulai bosen buka fesbuk. Paling2 cuma buka profile saya ma orang-orang tertentu aja. Sekarang mau kembali ke blog ah, untuk melatih kemampuan menulisku yang buruk ini..

InsyaAllah ke depannya saya akan mengaktifkan kembali blog ini dan mau cerita2 pengalaman yang saya dapet selama sebulan kemaren saya off dari blog ini. <hehe, kaya tulisanku menarik aja ya.?> Tapi gapapa, namanya juga sharing pengalaman dan pelajaran yang saya dapet. Kalo ada yang bagus dan bisa diterima, silakan diambil. Tapi kalo ada yang salah dan ga menarik, ya itu kan cuma pengalaman. Ok, selamat membaca halaman dan artikel-artikel dalam blog saya.

Salam..

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Apa kabar temen-temen? Wah, udah lama saya ga nulis di blog ini. Memang belakangan ini saya sibuk dengan berbagai tugas, praktikum, uts, dan lain-lain. Alhamdulillah, senangnya sekarang udah bisa nulis di blog lagi..

Pagi tadi saya dengar berita bahwa harga BBM turun lagi Rp. 500 dari harga sebelumnya Rp. 6.000 lalu turun menjadi Rp. 5.500 dan sekarang menjadi Rp.5.000. Sebagai mahasiswa, tentu turunnya harga BBM ini diharapkan membawa harapan baru, baik meningkatnya daya beli masyarakat hingga peningkatan taraf hidup masyarakat Indonesia secara keseluruhan, maupun menurunnya harga-harga kebutuhan sehari-hari, seperti ongkos angkot, makanan, dan kebutuhan lain. Turunnya harga-harga kebutuhan sehari-hari sangat dinanti oleh mahasiswa seperti saya ini, karena sebelumnya, jika tidak membawa bekal makanan dari rumah, uang yang diberikan orang tua terasa cepat sekali habis karena ongkos angkutan kota yang mahal, ditambah harus beli makanan di kantin yang juga mengalami kenaikan harga setelah kenaikan BBM.. :( sebelumnya, ongkos yang harus saya keluarkan untuk pergi ke rumah-kampus-rumah adalah Rp. 14.000 per hari, belum lagi kalo harus pergi-pergi kamana-mana lagi. makanan di kantin kayanya sekarang rata-rata Rp. 7.000 per porsi.. :(

Tapi, apakah penurunan harga ini akan direspon cepat oleh pelaku ekonomi di akar rumput secepat respon kenaikan harga BBM lalu.? Atau apakah mereka memang mau menurunkan harga? Jangan-jangan mereka juga ga ada bedanya dengan pemerintah yang mencari-cari alasan untuk tidak menurunkan harga. Ketika harga BBM naik, para pedagang dan sopir secepatnya berinisiatif menaikkan harga seenaknya. ketika ditanya kenapa naiknya jauh sekali, mereka hanya menjawab, karena harga BBM naik. Sekarang, apakah mungkin saya bayar lebih murah, lalu ketika ditanya kenapa bayarnya kurang, saya jawab, karena harga BBM turun? Apakah itu mungkin? kita lihat saja, karena saat ini saya belum makan dan naik angkot, jadi belum tau keadaan sebenarnya di lapangan.. semoga turunnya harga BBM ini memberi kesejahteraan yang lebih baik untuk seluruh lapisan masyarakat Indonesia.. Amin…

Older Posts »