Hari ini adalah H-2 menuju hari raya Iedul Fitri. Hari dimana orang-orang mempersiapkan berbagai hal dalam menghadapi Hari raya tersebut, termasuk memasak. Tapi apa yang terjadi dalam masyarakat sungguh sangat memprihatinkan..
Disaat banyak warga yang sibuk memasak untuk persiapan hari raya, mereka dihadapkan pada kesulitan yang lain, yaitu sulitnya mendapatkan behan bakar untuk dapur mereka. Saat ini, bahan bakar minyak sangat sulit didapatkan, kalaupun ada, dijual dengan harga yang melambung. Hal ini dapat dimengerti karena pemerintah sedang menggalakkan konversi bahan bakar minyak tenah ke bahan bakar gas elpiji yang ditandai dengan pembagian kompor gas gratis dengan satu buah tabung gas ukuran kecil yang ekonomis. Itupun banyak mengundang masalah karena pembagian yang tidak merata dan kualitas kompor yang diberikan jauh dari standar keamanan.
Kembali ke topik utama, ketika pemerintah berniat menggalakkan konversi minyak tanah ke gas elpiji, saat ini entah kenapa, gas elpiji pun sangat-sangat sulit didapat. Kalaupun tersedia di agen-agen penyalur, warga harus mengantri panjang dan membayar dengan harga yang mahal untuk mendapatkannya. Padahal, mereka sangat membutuhkan bahan bakar tersebut, bukan hanya karena akan menghadapi lebaran, tapi juga untuk kebutuhan memasak sehari-hari.
Hal ini saya alami sendiri seminggu yang lalu saat gas elpiji di rumah paman tempat saya tinggal habis. Paman saya mempunyai dua tabung sebagai cadangan, tapi kala itu memang semuanya sudah kosong. Saya menemani paman saya mencari gas elpiji untuk dibeli. Ketika sampai di agen Limas Raga Inti Jalan Sederhana, Bandung, kami mendapati pemandangan yang luar biasa menyedihkan. Warga tengah mengantri untuk mendapatkan elpiji, baik bapak-bapak, ibu-ibu, pemuda, dan sebagainya mengantridan menjejerkan tabung elpiji mereka sebagai urutan. Ketika kami mencoba bertanya pada salah satu dari mereka, ada yang sudah mengantri sejak pagi, dan ada pula yang kemarin sudah mengantri tapi ga kebagian. Memang seperti itu, tidak ada jaminan semua yang mengantri disana akan mendapat gas elpiji yang mereka harapkan. Besar kemungkinan walaupun mereka sudah antri berjam-jam, mereka tetap kehabisan gas elpiji karena persediaan yang terbatas. Kami pun akhirnya pergi untuk mencari elpiji di tempat yang lain karena tampak kami tidak akan kebagian di tempat itu. Beberapa tempat kami kunjungi, tetap tidak menghasilkan hasil yang positif. semua toko tidak ada persediaan lagi. kalupun ada, mereka jual dengan kisaran harga Rp. 100ribu, 110ribu, hingga 150ribu dari harga sebelumnya Rp. 85ribu. Akhirnya saya menelfon ibu saya, barangkali di toko dekat rumah saya masih ada persediaan elpiji untuk dibeli paman saya. Alhamdulillah ternyata disana masih ada persediaan satu tabung lagi yang dijual dengan harga Rp. 130ribu. Sesegera mungkin ibu saya membelinya agar tidak didahului orang lain. Paman saya mendapatkan tabungnya minggu lalu. Kini, giliran ibu saya yang tidak mendapatkan elpiji saat gas di rumah saya habis.
Entah apa sebabnya hingga elpiji, yang seharusnya mudah didapat sebagai kompensasi konversi bahan bakar minyak tanah, menjadi sangat sulit didapat. Para pejabat rasanya tidak akan merasakan sulitnya rakyat mencari bahan bakar karena tunjanga dan jaminan melimpah yang mereka dapatkan. Seharusnya dengan berbagai jaminan itu, mereka semakin giat memperjuangkan kepentingan rakyat banyak, bukan terus menerus mementingkan kebutuhan pribadi dan partainya dengan menjual kekayaan negara ini, salah satunya adalah kasus penjualan gas alam Tangguh yang hanya USD 3,8 per MMBTU (Million Metric British Thermal Unit) ke investor Cina, disaat harga saat ini mencapai USD 20 per MMBTU.
Beginilah potret bangsa kita menghadapi Hari Kemenangan. Masyarakat harus benar-benar berjuang, tidak hanya melawan lapar dan dahaga, nafsu dan amarah saja untuk mencapai kemenangan. Mereka juga harus berjuang menjalani hari-hari yang semakin sulit untuk mendapatkan kemenangan dunia dan akhirat. Semoga dengan perjuangan teguh disertai kesabaran, kita dapat meraih kemenangan hakiki yang memang kita harapkan. Amin..
Salam..

karena itulah hakikat puasa yang sesungguhnya !
moga2 aja kita bisa meraih kemenangan yang hakiki ky yg lw bilang Nir! amiiieeeen..
eh btw,,blognya adhiti link ya,,jangan lupa add jg adhiti di linknya,,:p thx Nir!
klo udah lebaran gmn nir? masih antri g?
hehe..
numpang lewat nh,, numpang link ya, biar gw tambah ngetop.. heheh..
hm, yg penting jd orang tetep kreatif, sperti tukang cendol yang bisa menangkap peluang bisnis di antrian panjang di siang yg panas
Terima kasih atas infonya…..