Matahari belum lama tenggelam saat saya tiba di Stasiun Kereta Api Bandung. Saya pergi kesana diantar teman yang juga telah membelikan saya tiket. Memang sabtu lalu, (4/7) tiket kereta api sudah hampir habis terjual karena banyak warga yang pulang ke kampung halaman untuk sekesar berlibur, mudik, atau melakukan pemilihan presiden di kampung halaman. Saya sendiri akan pergi ke Jogjakarta untuk mengikuti tes pekerjaan.
Pukul 20.00, kereta Lodaya tujuan Solo Balapan meneriakkan klakson kerasnya pertanda kereta akan segera meninggalkan Bandung. Semua penumpang yang belum masuk kereta bergegas masuk ke dalam. Saya sudah ada di dalam kereta saat itu. Saya duduk di gerbong 3, sehingga tidak terlalu jauh dari lokomotif. Perjalanan yang dingin dan nyaman dalam gerbong eksekutif kereta Lodaya, semakin terasa indah melihat indahnya kerlipan lampu di luar jendela. Namun rasa kantuk terlalu kuat hingga saya tertidur pulas hingga stasiun Wates, Jogja.
Kereta dijadwalkan tiba pukul 05.11 senin pagi di jogja. dan ternyata kereta tiba lebih cepet 30 menit sehingga saya sudah menginjakkan kaki di Negeri Sultan pukul 04.36. Saya dijemput seorang teman yang dengan baiknya bangun subuh2 buat ngejemput saya di stasiun. Dia teman SD dan SMA yang sekarang kuliah di UGM, jadi dia bisa disebut tuan rumah juga, karena dia sidah hafal seluk beluk kota jogja. Saya istirahat sekitar 2 jam di kontrakkannya di sekitar jalan Kaliurang sambil nunggu tes pukul 08.00 di UGM. Saya meminta dia menemani karena tes saya dilakukan di UGM dan dia adalah mahasiswa UGM sehingga tau dimana tempat tes saya dilaksanakan. Kampus UGM sangatlah luas, sehingga sulit sekali mencari tempat di UGM tanpa tau dimana letak persisnya.
Tes dimulai pukul 08.00 hingga 12.00. Saya tidak akan menceritakan detil tes ini karena terlalu formal kalo cerita detil tes itu. Setelah tes selesai, saya diantar temen saya itu jalan-jalan keliling kota jogja. Ini pertama kalinya saya jalan-jalan di Jogja sendirian, maksudnya ga ikut rombongan. Biasanya kan kalo jalan-jalan ke jogja bareng-bareng rombongan karya wisata sekolah. Jadi ga bisa bebas pergi menjelajahi kota jogja. Gimana rute sesuai teklap karya wisata itu. Kalo kemaren saya bener-bener muterin kota jogja.
Makan siang di pusat Gudeg Wijilan deket keraton Yogyakarta, gudegnya enak banget.! ditemani minuman es secang yang tetap hangat walopun disajikan dingin.
Berputar-putar kota jogja, melihat Tugu, keraton, benteng, gedung Agung, masuk pabrik bakpia pathuk. Nah, di pabrik ini saya nemuin tulisan unik. Ada tulisan imbauan “Wajib potong kuku setiap hari Jumat”. haha, mungkin ini dipasang untuk menjamin kehigienisan bakpia yang diproduksi. Supaya bakteri-bakteri yang nempel di kuku ga kebawa ke dalam bakpia. Timbul pemikiran di benak saya dan temen saya, kalo gitu paling enak beli bakpia hari sabtu dong. Pas pembuat2nya selesai potong kuku. Dan paling ga enak beli bakpia hari kamis, karena hari terakhir sebelum potong kuku. hahaha.. bcanda,, itu cuma khayalan kami..

Ngayogyakarta Hadiningrat
Setelah kenyang berkeliling kota jogja, akhirnya tak lupa berjalan-jalan di jalan Malioboro. Disana saya cuma liat-liat karena pusing banyak orang banget. Mau beli baju juga malas, jadi akhirnya cuma jalan-jalan dan liat-liat aja. Puas berkeliling kota Jogjakarta, kami kembali ke kampus UGM karena teman saya harus bimbingan TA. Wow, UGM luas sekali. Saya denger cerita teman saya bahwa tanah UGM adalah tanah milik sultan, sehingga sangat luas. Ga kebayang kalo saya harus berjalan di dalam kampus UGM, ga ada motor, atau angkot. Pasti cape banget. Saya bandingkan dengan kampus ITB yang kalo saya jalan dari depan sampai belakang kampus aja udah cape banget. Apalagi kalo harus jalan mengitari UGM. Saya menyadari betapa kecilnya kampus ITB, hanya satu blok Ganesha.
Kemudian saya lihat selokan Mataram yang menurut cerita teman saya itu, dibangun sebagai perintah sultan pada masa penjajahan Jepang agar menghindarkan rakyat Jogja dari romusha. Daripada rakyat jogja dijadikan romusha, lebih baik diperintahkan untuk membangun selokan mataram itu. Wah, hebat ya sultan saat itu.!
Setelah berjalan-jalan di kampus UGM, kami pulang ke kontrakan teman saya. Sesampainya di kontrakan, saya bertemu teman sekontrakan teman yang semuanya orang jawa. Mereka tampak asyik mengobrol dan tertawa riang, tapi sedihnya saya tidak bisa ikut bergabung, karena mereka semua bercanda dalam bahasa Jawa dan saya tidak sedikitpun mengerti. Saya hanya bengong terdiam. hahaha… Walaupun begitu, mereka sangat ramah dan sopan. Pukul 22.00, saya berangkat ke Stasiun Tugu, Jogjakarta untuk pulang ke Kota Bandung tercinta. Kereta Turangga yang datang dari Surabaya menuju Bandung yang akan saya naiki tiba di Jogjakarta pukul 23.00 san saya langsung masuk dan mencari tempat duduk yang sudah saya pesan. Setelah kereta mulai berangkat, seketika saya tertidur, lelah setelah seharian mengikuti tes dan bertualang di negeri sultan terasa hilang saat tertidur pulas dalam kereta sepanjang perjalanan. Perjalanan ini memang hanya sehari, tetapi memberikan kenangan yang akan terus saya ingat. Sedapnya gudeg asli keraton, keramahan serta senyum tulus penduduk Jogja tidak akan mudah untuk dilupakan. Saya ingin segera kembali kesana.