Pagi-pagi, saat mentari belum bangun dari tidurnya.. <lebaay..
> saya sudah terbangun dan melihat suasana di luar rumah. Sepiiiiii…… siiiiiiiing……
…. ada yang berbeda dari hari-hari biasanya pada rabu, 8 Juli 2009 kemarin. Ya, rakyat Indonesia kemarin melaksanakan pesta demokrasi pemilihan presiden secara langsung untuk kedua kalinya setelah tahun 2004. Tampaknya rakyat sangat antusias, setidaknya tercermin dari keluarga saya.
Pagi itu, saya langsung bersiap untuk melaksanakan pencontrengan yang dilaksanakan di lapangan dekat rumah saya. Saya sudah mantap dengan calon presiden yang akan saya pilih.
Berdua dengan kakak saya pergi ke lapangan sekitar pukul 08.30. Kami pergi lebih dahulu dari orang tua karena sudah ingin mengikuti pencontrengan presiden. Tampak di lapangan bapak-bapak berkumpul membicarakan pilpres dan calon yang mereka dukung masing-masing.
Kartu undangan pemilu diberikan ke petugas KPPS dan saya menunggu di kursi tunggu kira-kira 15 menit, lalu nama saya dipanggil. Saya diberi selembar kertas suara dan segera masuk ke bilik suara untuk mencontreng presiden pilihan saya. Tidak lupa saya periksa kertas suara, takut ada kerusakan atau sudah dicontreng. Alhamdulillah kertas suara yang saya dapat dalam keadaan baik. Kemudian saya mencontreng di bagian foto presiden pilihan saya. Lalu saya masukkan kertas ke dalam kotak suara dan celupkan jari kelingking ke tinta tanda proses pencontrengan telah selesai.
Ketika saya keluar, bapak-bapak terlihat masih mengobrol dan tampak mengira-ngira siapa yang akan memenangkan pemilu ini. Mereka menjagokan calon presiden mereka masing-masing, terkadang sedikit berdebat. Namun semua tampak menyatu dan selaras dalam perbedaan pilihan dan golongan. Inilah yang seharusnya terjadi, walaupun pilihan berbeda, tetapi tetap satu saudara. Perbedaan hanya terjadi saat pencontrangan, di luar itu, semua harus bahu-membahu membangun bangsa ini. itulah yang dapat saya tangkap dari perdebatan mereka mendukung calon presiden masing-masing yang tetap diselingi senyum dan gelak tawa persahabatan.

Garuda Pancasila
Sesampainya di rumah, saya menonton acara televisi yang membahas masalah pemilu. Saya melihat di salah satu saluran televisi sebuah acara yang menghadirkan pendukung dari ketiga calon presiden. Disana semua bersorak-sorak sambil berpegangan tangan seakan mereka bukan berasal dari kelompok yang berbeda. Betapa indah persatuan ditengah perbedaan dan keragaman warna. Hal seperti ini semoga dapat dilakukan pula oleh para pemimpin terutama calon-calon presiden kita. Siapapun yang terpilih secara resmi kelak haruslah bekerja keras untuk meningkatkan kehidupan bangsa Indonesia ini. Dan yang tidak terpilih, harus legowo dan mendukung presiden terpilih dengan sepenuh hati. Karena bagaimanapun keenam capres dan cawapres kita adalah enam orang terpilih yang memiliki kompetensi untuk memimpin bangsa. Memang presiden hanya ada satu orang, tetapi jika keenamnya saling mendukung dan dapat bekerja bersama bahu membahu membangun bangsa ini, pastilah pembangunan akan berjalan dengan baik dan cepat. Saat pemimpinnya bersatu, masyarakat di bawah pasti akan ikut mendukung dan menyatu bersama-sama menjalankan pembangunan. Cukuplah kompetisi terjadi saat proses pemilu, setelah pemilu selesai, kembali menjadi warga Indonesia yang satu. Inilah harapan saya selaku rakyat Indonesia yang mendambakan perdamaian dan kemajuan bangsa. Bagaimanakah harapan anda? apakah sama seperti harapan saya? itu terserah anda pribadi..